Menenun Cahaya, Menjawab Panggilan: Refleksi HARDIKNAS dari SMP Giovanni Kupang

Oleh Yohanes Dedy Teguh, S.Pd., Gr

Hari ini, ketika mentari menyapa bumi Flobamora dengan kehangatannya yang khas, saya duduk tertegun di beranda rumahku di Manulai II, Kota Kupang. Di hadapan saya, riuh rendah suara anak-anak ayam, dan di pepohonan sekitar rumah, burung-burung berkicau riang seolah mengucap syukur atas indahnya semesta ini. Sejenak, dalam keheningan batin, saya merenungkan bahwa hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026. Sebuah momentum besar yang mengajak saya untuk merenung di bawah payung tema yang megah: “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”

Membaca tema tersebut, pikiran saya berkelana jauh ke masa lalu, menembus lorong waktu menuju sosok bersahaja yang menjadi fondasi intelektual bangsa ini: Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Beliau bukan sekadar nama dalam buku sejarah bagi saya; beliau adalah kompas moral bagi setiap jiwa yang berani menyebut dirinya “guru”. Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa bukan dengan kemewahan, melainkan dengan keberanian melawan belenggu kebodohan kolonial. Beliau mewariskan sebuah trilogi kepemimpinan yang kini menjadi detak jantung pendidikan bangsa ini: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Bagi saya, seorang guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, moto ini bukan sekadar hafalan untuk ujian sertifikasi. Ini adalah laku hidup. Ing Ngarsa Sung Tuladha—di depan memberi teladan.

Di SMP Katolik Giovanni Kupang, tempat saya mengabdi, saya menyadari bahwa sebelum mengajarkan tentang kasih Kristus, saya harus menjadi manifestasi kecil dari kasih itu sendiri. Jika saya ingin anak didik saya disiplin, saya harus menjadi orang pertama yang menyapa di gerbang sekolah sebelum lonceng berbunyi. Jika saya ingin mereka berkata jujur, maka integritas harus menjadi pakaian harian saya.

Ing Madya Mangun Karsa—di tengah membangun karsa atau semangat. Pendidikan bukanlah proses searah, di mana saya adalah sumber air dan murid adalah bejana kosong. Pendidikan adalah perjalanan bersama. Di tengah-tengah mereka, saya bukan lagi sosok yang berdiri di atas podium otoritas, melainkan kawan seperjalanan yang membangkitkan api semangat saat mereka mulai jenuh dengan tumpukan tugas atau pergulatan masa remaja yang membingungkan.

Dan Tut Wuri Handayani—di belakang memberi dorongan. Inilah seni melepaskan. Seperti seorang penabur yang membiarkan benihnya tumbuh sesuai kodrat alaminya, saya bertugas memastikan mereka memiliki pijakan yang kuat untuk melompat lebih tinggi, mengejar mimpi-mimpi mereka setinggi langit Timor.

Tema tahun 2026 ini menekankan pada “Partisipasi Semesta”. Kata “semesta” mengingatkan saya bahwa pendidikan tidak boleh eksklusif. Ia bukan milik mereka yang mampu membayar mahal, bukan pula milik mereka yang berada di kota-kota besar dengan akses internet melimpah. Pendidikan bermutu adalah hak setiap ciptaan Tuhan. Dalam Injil Matius 25:14–30 tentang talenta, kita diajarkan bahwa setiap orang diberi modal yang berbeda, namun tanggung jawab untuk mengembangkannya adalah mutlak. Pendidikan bermutu adalah sarana agar setiap “talenta” yang dititipkan Tuhan pada anak-anak di SMP Katolik Giovanni Kupang tidak terpendam di dalam tanah karena kemiskinan atau kurangnya kesempatan.

Saya melihat sekolah yang sederhana ini sebagai sebuah mikrokosmos dari semesta tersebut. Di sini, di sekolah kebanggaan NTT ini, partisipasi semesta dimulai dari hal-hal kecil: kerja sama antara orang tua yang bekerja keras di pasar, guru yang berdedikasi di kelas, dan masyarakat yang mendukung lingkungan belajar yang kondusif. Ini adalah gotong royong spiritual untuk memastikan cahaya pengetahuan tidak padam.

Di dada kiri seragam anak-anak SMP Giovanni, tersemat moto yang mendalam: “FIAT LUX”—Jadilah Terang! Kata-kata ini adalah firman pertama yang diucapkan Allah dalam kisah penciptaan (Kejadian 1:3). Saat itu bumi masih gelap gulita dan kosong. Allah tidak mengirimkan tentara untuk mengusir kegelapan; Ia mengirimkan terang.

Bagi saya, menjadi guru di SMP Katolik Giovanni Kupang adalah upaya harian untuk mewujudkan “Fiat Lux” itu. Terang yang diusahakan bukan terang yang menyilaukan dan menyakiti mata, melainkan terang yang menuntun langkah dalam kegelapan. Moto ini kemudian dijabarkan menjadi tiga pilar utama: iman, ilmu, dan kasih.

  1. Terang dalam Iman: Di tengah arus sekularisme dan kebencian, saya berusaha menanamkan bahwa iman bukan sekadar ritual hari Minggu. Iman adalah keberanian untuk percaya bahwa Tuhan hadir dalam setiap rumus matematika, dalam setiap struktur kalimat bahasa Indonesia, dan dalam setiap keringat saat berolahraga. Iman adalah fondasi yang membuat anak didik tetap tegak saat badai kehidupan melanda.
  2. Terang dalam Ilmu: Seseorang tidak bisa mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh jika malas mengasah akal budi. Ilmu pengetahuan adalah jalan untuk memahami keagungan ciptaan-Nya. Di kelas, saya selalu menekankan bahwa belajar bukan untuk mencari nilai di atas kertas, tetapi untuk memuliakan Tuhan melalui kecerdasan yang bertanggung jawab.
  3. Terang dalam Kasih: Inilah puncak dari segalanya. Ilmu tanpa kasih adalah kesombongan; iman tanpa kasih adalah kemunafikan. Di SMP Katolik Giovanni Kupang, kasih diwujudkan dalam kesederhanaan: dalam cara kita saling menyapa, dalam kepedulian terhadap teman yang berduka, dan dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah sebagai rumah bersama.

Refleksi Diri: Guru yang Sederhana namun Bermakna

Sering kali saya bertanya pada diri sendiri, “Apa arti kehadiran saya di sekolah ini?” Saya bukan profesor besar dengan teori-teori rumit. Saya hanyalah seorang guru agama yang setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah lugu di Kupang. Namun, dalam kesederhanaan itu, saya menemukan makna yang luar biasa.

Menjadi guru di SMP Katolik Giovanni Kupang adalah sebuah panggilan untuk menjadi “garam”. Garam itu kecil, sederhana, dan sering kali tidak terlihat saat sudah larut dalam masakan. Namun tanpanya, makanan akan hambar. Kehadiran saya mungkin sederhana—hanya memberikan sepatah kata penguatan atau menjelaskan perumpamaan Yesus dengan bahasa yang tegas namun mudah dimengerti. Namun saya percaya, dalam hal-hal kecil itulah Tuhan bekerja.

Saya teringat pada sabda Yesus dalam Matius 5:14, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” SMP Katolik Giovanni Kupang mungkin kecil di peta pendidikan dunia, namun ia harus menjadi kota di atas gunung bagi NTT, khususnya bagi para peserta didik.

Di tanah Timor yang keras ini, pendidikan bermutu bagi semua berarti memastikan tidak ada satu pun anak yang merasa ditinggalkan. Kita menguatkan partisipasi semesta karena kita tidak berjalan sendirian. Seperti pohon cendana yang tumbuh perlahan namun memberikan harum yang abadi, begitulah saya membayangkan proses pendidikan di SMP Katolik Giovanni Kupang.

Mengakhiri refleksi ini, di Hari Pendidikan Nasional 2026, saya memperbarui janji saya sebagai seorang pendidik. Saya ingin terus belajar, terus beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa kehilangan identitas spiritual saya. Pendidikan bermutu bukan hanya soal skor akademik, tetapi tentang pembentukan karakter yang menyerupai Kristus, Sang Guru Agung.

Mari teruskan perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan semangat Fiat Lux. Biarlah dari ruang-ruang kelas di SMP Katolik Giovanni Kupang yang sederhana ini lahir generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga lembut hatinya—generasi yang siap berpartisipasi dalam semesta ini untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Pendidikan bermutu untuk semua bukanlah utopia jika kita semua bersedia menjadi terang. Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal kecil, dan mulailah dari sekarang.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Salam Fiat Lux—jadilah terang dalam iman, ilmu, dan kasih.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top