Oleh: YB. Inocenty Loe
Alumni LPDP Pejuang Digital (APD) penempatan SD GMIT Oehani, Kab. Kupang
Baru tiga minggu saya menjejakkan kaki di tanah pengabdian ini. Waktu yang singkat, tetapi cukup untuk membuka mata dan hati saya bahwa apa yang saya jalani di SD GMIT Oehani, Kabupaten Kupang, bukan sekadar perjalanan biasa—melainkan sebuah panggilan pulang.
Saya tinggal di Desa Kuaklalo, tidak begitu jauh dari sekolah tempat saya mengabdi. Aktivitas harian dari tempat tinggal ke sekolah memang relatif dekat, namun perjalanan yang sesungguhnya menantang justru dimulai sejak dari Kota Kupang menuju wilayah ini. Jalan yang harus dilalui rusak parah—sangat parah—dipenuhi bebatuan, berlubang, dan di beberapa titik nyaris tidak layak disebut jalan. Perjalanan kurang lebih satu jam itu terasa jauh lebih panjang dari seharusnya. Infrastruktur yang rapuh ini bukan hanya soal akses, tetapi menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan harus bertahan di tengah keterbatasan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Di beberapa titik, jaringan benar-benar hilang, seakan memutus hubungan dengan dunia luar. Listrik pun tidak selalu bersahabat—tegangannya naik turun, kadang redup, kadang tiba-tiba padam. Dalam kondisi seperti ini, harapan tentang kemajuan pendidikan sering kali diuji. Namun yang tetap bertahan adalah semangat—semangat untuk terus belajar dan mengajar, meskipun dalam keadaan yang jauh dari ideal.
Saya tiba pada tanggal 7 April, dan diterima langsung oleh Bupati Kupang di rumah jabatannya. Sebuah seremoni penerimaan yang sederhana, namun sarat harapan. Setelah itu, kami diperkenalkan kepada kepala sekolah masing-masing, lalu diantar ke lokasi pengabdian. Sejak saat itu, saya tahu, perjalanan ini bukan sekadar penugasan—ini adalah jalan yang saya pilih dengan sadar.

Saya adalah anak tanah Nusa Tenggara Timur. Saya lahir dan dibentuk oleh tanah ini, oleh realitas yang tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lihat hari ini. Karena itu, berada di sini bukan tentang ditempatkan, tetapi tentang kembali. Kembali untuk melihat, merasakan, dan mengambil bagian dalam perubahan—sekecil apa pun itu. Saya tidak datang sebagai orang luar yang ingin “membantu”, tetapi sebagai bagian dari tanah ini yang merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab.
Karena itu, saya tidak menyebut ini sebagai “tugas”. Saya menyebutnya “pengabdian”. Tugas memiliki batas—ia selesai ketika waktu habis. Tetapi pengabdian tidak mengenal akhir yang pasti. Ia lahir dari kesadaran bahwa kita terikat pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri: pada tanah, pada masyarakat, dan pada masa depan generasi berikutnya. Mengabdi berarti tetap bertahan bahkan ketika keadaan tidak ideal, tetap memberi bahkan ketika tidak diminta, dan tetap percaya bahkan ketika harapan tampak jauh.
SD GMIT Oehani adalah cermin dari banyak sekolah di pelosok NTT. Sekolah ini memiliki delapan orang guru, termasuk kepala sekolah. Tiga di antaranya adalah PNS, sementara yang lain adalah guru honorer yang bergantung pada dana BOS. Empat orang menerima sertifikasi dari pemerintah, sehingga tidak lagi menerima honor dari dana BOS, melainkan dari tunjangan sertifikasi. Ada pula satu tenaga kependidikan—operator sekolah—yang juga honorer, yang bekerja dalam sunyi dengan dedikasi yang sering kali tak terlihat, dengan imbalan yang belum tentu sebanding.
Sekolah ini kekurangan guru. Tidak ada guru PJOK. Guru dengan latar belakang mata pelajaran tertentu harus merangkap menjadi guru kelas. Ini bukan pilihan, melainkan keharusan di tengah keterbatasan. Namun di tengah semua itu, tidak pernah saya mendengar keluhan. Mereka tetap hadir, tetap mengajar, tetap setia pada tanggung jawabnya. Seolah-olah mereka telah melewati fase mengeluh, dan memilih untuk mengabdi sepenuhnya. Mungkin inilah wajah pendidikan di tanah ini—keras dalam realitas, tetapi hangat dalam ketulusan.
Jumlah murid sekitar delapan puluhan, tersebar dalam enam kelas. Sekolah ini berdiri sejak tahun 1960-an, membawa sejarah panjang perjuangan pendidikan di wilayah ini. Namun waktu juga meninggalkan luka. Ruang perpustakaan rusak parah dan tidak dapat digunakan. Padahal kita tahu, buku adalah jendela dunia—jalan bagi anak-anak untuk melihat masa depan yang lebih luas. Lalu, bagaimana jika jendela itu tertutup? Bagaimana jika mimpi-mimpi itu tidak memiliki ruang untuk tumbuh?

Di titik inilah saya semakin mengerti—mengabdi di NTT, khususnya di dunia pendidikan, bukanlah perkara mudah. Ini adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan keberanian untuk tetap bertahan dalam keterbatasan. Tetapi justru karena itulah, jalan ini harus dipilih. Dan saya memilihnya.
Sebagai anak tanah NTT, saya tidak ingin hanya menjadi penonton dari cerita panjang ketertinggalan ini. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan, meskipun kecil, meskipun pelan. Karena saya percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan cinta.
Dan di tempat ini, di tengah segala keterbatasan, saya sedang belajar satu hal yang paling mendasar: bahwa mengabdi bukan tentang seberapa besar yang kita berikan, tetapi seberapa dalam kita mencintai tanah yang kita layani.

