Kupang — SMAK Giovanni Kupang resmi menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi berjudul Tempat Daun Berhenti Bicara. Buku ini merupakan wujud kreativitas peserta didik dalam memaknai pengalaman, ruang batin, dan realitas sosial melalui bahasa yang lebih puitis. Proses penerbitan dilakukan melalui kerja sama dengan Penerbit Indo Expose, bagian dari Lembaga Kelazku Literia.
Dalam perbincangan di ruang kerjanya, Kepala SMAK Giovanni Kupang, Romo Stefanus Mau, Pr., menegaskan bahwa karya ini menjadi bukti bahwa sekolah dapat menghadirkan ruang bagi peserta didik untuk tidak sekadar mempelajari teori, tetapi juga menghasilkan karya. Menurutnya, puisi memberi kesempatan bagi para remaja untuk menuliskan pertanyaan, luka, harapan, hingga keindahan dunia dengan sudut pandang yang lebih intim dan reflektif.
Kumpulan puisi Tempat Daun Berhenti Bicara memuat ragam tema mulai dari kontemplasi relasi manusia–alam, pencarian identitas diri, pertemanan, hingga pengalaman religius dan kehidupan sosial. Nuansa yang tercipta melalui karya-karya tersebut menunjukkan bahwa proses kreatif peserta didik berjalan dengan pendalaman rasa serta pemilahan diksi yang matang.

Judul Tempat Daun Berhenti Bicara sendiri dapat dibaca sebagai metafora tentang momen ketika alam atau hidup berhenti bergerak dalam riuh kata-kata, menyisakan keheningan yang justru mengandung makna. Daun yang biasanya bergerak, berdesir, dan “berbicara” melalui angin tiba-tiba diam—dan pada titik diam itulah pembaca diajak menangkap pesan yang lebih halus, suara yang tidak kasat telinga, serta refleksi yang bekerja tanpa terburu-buru. Judul tersebut menjadi simbol bagi ruang kontemplatif tempat pengalaman dan gagasan tidak lagi diungkap lewat keramaian bahasa, melainkan melalui kesunyian yang lebih jernih.
Tidak berhenti pada satu karya terbit, SMAK Giovanni Kupang kini sedang mempersiapkan dua buku berikutnya. Yang pertama adalah kumpulan cerpen karya peserta didik, yang saat ini berada dalam tahap penyusunan dan penyuntingan. Buku kedua merupakan karya Frater TOP yang berkarya di SMAK Giovanni Kupang, yang juga sedang melalui proses penulisan dan penyuntingan awal. Dua rencana penerbitan ini menunjukkan kesinambungan upaya sekolah dalam mengembangkan literasi kreatif secara sistematis dan berkelanjutan.
Romo Stefanus menyebut bahwa penerbitan karya demi karya bukan hanya menjadi catatan sejarah sekolah, melainkan juga kontribusi intelektual bagi dunia literasi di Kota Kupang dan Nusa Tenggara Timur. SMAK Giovanni Kupang berharap dapat terus merawat tradisi menulis sehingga generasi muda tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga penghasil teks yang memiliki daya hidup di ruang publik.

