Bedah Buku Karya Robertus Fahik Menghidupkan Kembali Gerson dan Umbu

Berita ini disusun berdasarkan berita “YASPENSI – D’ART Cafe & Gallery Selenggarakan Bedah Buku Esai tentang Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi” yang ditulis oleh Admin SekolahTimur.com (2 Desember 2025).

Kota Kupang – Suasana sastra mengalir syahdu di D’ART Cafe & Gallery Kupang ketika YASPENSI bersama pengelola galeri tersebut menggelar bedah buku esai “Mengenal Gerson Mengenang Umbu” karya Robertus Fahik, Senin (1/12). Buku ini menjadi ruang penghormatan bagi dua tokoh besar sastra Indonesia asal NTT—Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi—yang jejak kreatifnya telah lama menginspirasi para penulis lintas generasi.

Tiga narasumber hadir memperkaya diskusi: Kepala Balai Bahasa Provinsi NTT, R. Hery Budhiono; akademisi Universitas Nusa Cendana, Dr. Marselus Robot; dan sang penulis sendiri, Robertus Fahik. Mereka dipandu oleh moderator Mezra E. Pellondou, penulis sekaligus pendidik yang telah lama berkecimpung dalam dunia literasi.

Buku Sebagai Persembahan: Murid untuk Guru

Dalam pemaparannya, Hery Budhiono menilai kegiatan tersebut bukan hanya agenda literasi, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap warisan intelektual NTT. Ia menyebut buku karya Fahik sebagai sebuah “persembahan”—sebuah cara seorang murid atau pengagum membalas inspirasi dari figur-figur yang membentuk pandangan dan perjalanan kreatifnya.

Hery menegaskan bahwa perjalanan spiritual penulis bersama Umbu dan pertemuan fisiknya dengan Gerson Poyk tertangkap jelas dalam setiap esai. Baginya, buku ini adalah kesaksian personal yang ditulis dengan ketulusan.

Membaca Melalui Kaca Ekspresif

Sementara itu, Dr. Marselus Robot menyoroti metode penulisan yang digunakan Fahik. Ia menjelaskan bahwa penulis memakai pendekatan ekspresif—sebuah cara membaca yang melihat pantulan karakter, latar belakang, dan pengalaman pengarang dalam karya mereka.

Pendekatan ini, menurut Marselus, sangat terasa dalam bagaimana Fahik menarasikan jejak dua sastrawan tersebut. Meski demikian, ia membuka ruang kemungkinan bahwa karya-karya Gerson Poyk juga dapat dibaca dengan perspektif sosiologi sastra, mengingat kuatnya muatan sosial yang melekat pada tulisannya.

Antusiasme Komunitas Literasi Kupang

Ruang acara yang dipenuhi lebih dari 50 peserta—mulai dari mahasiswa, guru, penggerak komunitas, hingga jurnalis—menunjukkan semangat literasi Kupang yang terus tumbuh. Beberapa tokoh turut hadir, seperti Ketua YASPENSI Marianus Seong Ndewi; sastrawan Mario F. Lawi dan Saddam HP; serta Direktur D’ART Cafe & Gallery, Dewa Putu Sahadewa, yang pernah belajar langsung pada Umbu saat bersekolah di Bali.

Di sela-sela diskusi, sejumlah peserta membacakan puisi Gerson dan Umbu, membawa hadirin kembali pada kekayaan imajinasi dan gaya tutur khas dua maestro ini. Sebagai penutup, Robertus Fahik membawakan musikalisasi puisi “Ibunda Tercinta” karya Umbu—sebuah karya yang ia susun tak lama setelah sang penyair wafat, menjadikannya momen emosional penutup acara.

Catatan Penutup

Kegiatan bedah buku ini menunjukkan bahwa sastra bukan hanya arsip tekstual, tetapi juga arena perjumpaan gagasan yang mempertemukan pengalaman personal, pemikiran kritis, dan ingatan kolektif. Melalui dialog antara penulis, akademisi, dan pemerhati literasi, terlihat betapa kuatnya pengaruh Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi dalam membentuk imajinasi kultural NTT. Pendekatan ekspresif yang menjadi dasar penulisan esai Robertus Fahik memperlihatkan bahwa karya sastra selalu terhubung dengan perjalanan hidup penciptanya, sehingga pembaca diajak memasuki ruang batin dua tokoh besar tersebut dengan lebih dekat dan mendalam.

Lebih jauh, antusiasme peserta yang memenuhi ruang acara mengisyaratkan bahwa dinamika literasi di Kupang tengah tumbuh dengan sehat. Kehadiran komunitas, guru, mahasiswa, hingga para sastrawan menandai bahwa kegiatan seperti ini memainkan peran penting dalam membangun ruang belajar bersama yang hidup dan terbuka. Bedah buku ini bukan semata-mata penghormatan terhadap Gerson dan Umbu, tetapi juga momentum untuk memperkuat tradisi literasi sebagai bagian dari identitas budaya. Dari ruang kecil di D’ART Cafe, terasa bahwa semangat bersastra tetap menyala dan siap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top